Lynx melangkah perlahan mendekati tiga sosok immortal yang tergeletak tak berdaya di atas lantai batu yang dingin. Walau ketiganya adalah immortal tingkat akhir, kini tubuh mereka terkulai lemas dengan wajah terlihat pucat akibat satu pukulan telak yang menghantam dengan kekuatan presisi luar biasa.

Tak jauh dari sana, Leluhur Sekte Api Langit berdiri tegak dengan kedua tangan bersedekap di dada. Sorot matanya tajam, mengamati setiap gerak-gerik Lynx. Alisnya sedikit berkerut, menandakan rasa penasaran yang terus bergelayut di benaknya. Ia ingin tahu teknik apa yang akan digunakan pemuda itu untuk membangunkan tiga immortal yang jatuh pingsan karena pukulan yang diberikan tadi.

Namun, yang terjadi justru membuat ekspresi lelaki tua itu membeku sejenak. Lynx mengangkat tangannya, dan dari dalam cincin penyimpanannya muncullah sebuah kantung air. Ia membuka ikatannya perlahan, lalu tanpa ragu menyiramkan air dingin itu ke wajah ketiga kultivator immortal tersebut.

Cipratan air membasahi janggut, alis, dan kerah jubah mereka. Tubuh para immortal itu tersentak pelan. Salah satu dari mereka mengerang lirih, kelopak matanya bergetar sebelum terbuka sedikit demi sedikit. Setelah terbatuk pelan, dia mencoba mengangkat tubuhnya dengan tangan yang masih gemetar.

Leluhur Sekte Api Langit melangkah maju satu langkah. Matanya membelalak sejenak sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang.

"Kukira Xiao Ling punya cara khusus untuk membangunkan mereka, ternyata..." gumamnya perlahan. Suaranya sarat rasa kaget bercampur bingung.

Leluhur sekte mendekati Lynx yang sudah kembali berubah wujud menjadi sosok Plasura. Ia harus menggunakan kekuatan untuk menundukkan ketiga immortal yang keras kepala ini sehingga mereka bertiga tidak boleh mengetahui sosok aslinya.

"Aduh, kepalaku," kata Mei Lianhua yang tersadar lebih dulu sambil memegang kepala yang terasa sakit. "Air apa ini?" bisiknya pelan.

Ia menatap sekitar, melihat Yi Wushen dan Gong Nanlie masih tak sadarkan diri. Tubuh mereka basah kuyup seperti dirinya. Di depannya berdiri sosok misterius yang menghentikan serangan gabungan mereka dan menyerang mereka secara tiba-tiba.

Dengan cepat, Mei Lianhua mengguncang tubuh Yi Wushen dan Gong Nanlie untuk menyadarkan mereka, namun tetap tidak ada pergerakan. Saat Lynx memukul mereka bertiga, memang Mei Lianhua yang paling ringan terkena karena ia seorang wanita.

"Siapa... siapa kamu?" tanya Mei Lianhua dengan tubuh bergetar. Ia masih ingat jelas bagaimana kekuatan gabungan mereka bertiga dihancurkan dengan mudah oleh sosok ini. Ranah immortal tingkat akhir yang dikeluarkan sosok di depannya membuat Mei Lianhua tak berani membalas.

Tiba-tiba, sorot mata Mei Lianhua berubah. Ia menatap melewati bahu sosok misterius di depannya, dan napasnya tertahan sejenak saat melihat sosok lain berdiri beberapa langkah di belakang. Leluhur Sekte Api Langit, Zhao Feng, berdiri dengan tatapan serius memandang ke arahnya.

Mata Mei Lianhua membelalak, ekspresinya berubah dari gentar menjadi marah. Ia merangkak bangkit walau tubuhnya masih lemah, lalu menunjuk Zhao Feng dengan mata berapi-api.

"Zhao Feng? Apa maksud semua ini? Kau berbuat licik... sengaja diam-diam membawa bantuan untuk menyerang kami secara tiba-tiba. Ini tidak adil!" teriaknya lantang, meski suaranya masih serak. "Kau curang!"

Zhao Feng tidak menunjukkan reaksi marah. Ia melangkah maju dengan tenang, gerakannya mantap namun penuh wibawa. Tatapannya tertuju langsung ke mata Mei Lianhua.

"Mei Lianhua, jaga kata-katamu. Di hadapan Tuan Plasura, kekuatan kalian bukanlah apa-apa. Jangan membuat Tuan Plasura marah," ucapnya pelan, suaranya tenang namun tegas.

Mei Lianhua membeku. Ia memalingkan wajah, menatap kembali sosok di hadapannya yang berpenampilan aneh, pakaian dan penutup wajah yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Matanya menelusuri sosok itu, mengingat-ingat segala informasi yang pernah ia dengar. Hatinya mencelos.

"Tuan Plasura? kenapa aku tak pernah mendengar nama ini... tidak, tunggu. Baru-baru ini aku mendengar Zhao Feng bertarung dengan seseorang berpakaian aneh di Sekte Api Langit... banyak saksi mata melihatnya dan mereka mengatakan Zhao Feng kalah..." gumamnya lirih dalam batin, matanya perlahan melebar. "Kukira itu hanya berita palsu yang dilebih-lebihkan... jangan-jangan... dia orangnya?"

Sementara pikirannya berputar, Lynx berbicara dengan suara tegas.

"Leluhur Mei Lianhua, aku tidak datang ke sini untuk melukai siapa pun atau berdebat. Tujuanku hanya satu. Aku ingin menyelamatkan kerabatku yang terjebak di dalam ruang dimensi. Katakan bagaimana cara membuka gerbang itu."

Mei Lianhua menyipitkan mata, tubuhnya menegang.

"Ruang dimensi? Kenapa tidak kau tanyakan saja pada pria tua sialan itu?" katanya sambil menatap tajam ke arah Zhao Feng. "Dialah yang memegang kunci ruang dimensi itu."

Zhao Feng melangkah semakin mendekat dan menjawab tanpa ragu, mengabaikan kata-kata hinaan Mei Lianhua.

"Mei Lianhua, kami berada di sini justru karena kunci ruang dimensi itu telah hancur," katanya datar namun tegas.

Mei Lianhua menghela napas kasar, lalu tertawa pendek dengan nada sinis.

"Kau pikir aku percaya padamu begitu saja?" tanyanya dingin, wajahnya mengeras menahan amarah. "Tetapi meskipun aku tahu, aku takkan memberitahukannya. Biar kalian mencari caranya sendiri sampai dunia ini runtuh."

Kata-katanya menjadi percikan yang menyulut bara di dada Lynx. Wajahnya menggelap. Ia memejamkan mata sejenak, lalu dalam sekejap tubuhnya lenyap dari tempatnya berdiri.

Dalam waktu sepersekian napas, Mei Lianhua tersentak. Lehernya telah dicekik oleh tangan yang dingin namun kuat. Sosok Lynx kini berdiri hanya sejengkal darinya, tatapannya tajam bagaikan ujung tombak yang menusuk langsung ke dasar jiwanya.

"Aku sedang tidak ingin bermain-main," desisnya pelan, namun setiap kata terdengar bagaikan gemuruh petir di telinga Mei Lianhua. "Kalau kau masih ingin hidup, cepat katakan yang kau tahu."

Tekanan dari genggamannya semakin kuat, dan udara seakan berhenti berputar di sekitar mereka.

Mei Lianhua berdiri kaku. Sorot matanya menatap tajam ke arah pria di depannya, namun tubuhnya gemetar. Ia bisa merasakan bahwa walau sama-sama berada di ranah immortal, kekuatan orang ini jauh di atasnya. Tidak ada fluktuasi energi qi yang terpancar saat menyerangnya, namun tekanannya seolah menghimpit seluruh tubuh. Seakan dirinya bukan seorang immortal, melainkan binatang kecil yang tak berdaya di genggaman tangan.

"Baik, baik... aku bicara... lepaskan aku," ucap Mei Lianhua terengah-engah, wajahnya pucat dan mata memelas.

Lynx melepaskan cengkeramannya tanpa berkata apa-apa. Tubuh Mei Lianhua langsung terhuyung ke belakang. Ia menahan diri agar tidak jatuh, lalu terdengar suara batuk pelan.

"Huk... huk..." Ia terbatuk-batuk, satu tangannya menekan leher yang memerah.

Ia mengangkat wajah, matanya menyipit kesal.

"Apa kau tidak bisa sedikit menghargai seorang wanita?" katanya dengan suara parau, tapi nada bicaranya tetap keras.

Kepribadiannya yang keras kepala membuatnya sulit menahan diri, namun ia juga tahu batas. Melihat sosok di depannya belum menunjukkan perubahan sikap, ia buru-buru menambahkan,

"Aku jujur... aku tidak tahu bagaimana membuka ruang dimensi itu tanpa kunci. Aku yakin dua orang itu juga tidak tahu," ujarnya, menunduk sedikit, suaranya menurun. "Kalau kami tahu caranya, sudah sejak lama kami diburu, atau malah membuka ruang itu sendiri tanpa menunggu kunci dari Sekte Api Langit."

Lynx terdiam. Tatapannya kosong namun penuh pertimbangan. Ia memang sudah menduga bahwa kemungkinan mereka tahu sangat kecil, tetapi diam tanpa bertanya bukan sifatnya. Setidaknya, ia perlu memastikan sendiri.

Ia mengalihkan pandangannya ke dua immortal lain yang masih terbaring tak sadarkan diri. Dalam sekejap, tubuhnya lenyap dari pandangan Mei Lianhua.

Mei Lianhua terkesiap. Ia baru menyadari bahwa Lynx sudah berdiri di sisi Yi Wushen dan Gong Nanlie. Gerakannya terlalu cepat, bahkan ia tidak sempat menangkap bayangannya.

Lynx meletakkan telapak tangannya di atas dada Yi Wushen, lalu berpindah ke Gong Nanlie. Ujung jarinya bergerak cepat, menotok beberapa titik di tubuh keduanya. Setiap totokan tampak ringan, namun tepat. Ia menyalurkan sedikit energi sakti, cukup untuk menggugah kesadaran tanpa melukai tubuh mereka yang masih lemah.

Mei Lianhua membeku di tempat. Wajahnya menegang, matanya tak berkedip memandangi setiap gerakan Lynx. Ia sadar sepenuhnya bahwa pria ini bukanlah orang biasa. Kecepatan, kekuatan, dan presisi gerakannya menunjukkan bahwa ia berada di tingkat yang belum pernah ia saksikan.

Dari sisi lain, Leluhur Sekte Api Langit hanya mengamati dengan senyuman kecil di sudut bibir. Tatapannya tenang, seolah semua sudah sesuai dengan yang ia harapkan. Ia melihat reaksi Mei Lianhua dan diam-diam membenarkan dalam hati bahwa wanita itu akhirnya menyadari dengan siapa ia berhadapan.

